7 Maret 2007
Pak Masykur, usiamu terlalu singkat untuk mengabdi kepada FE UGM. Berikut saya tambah cerita "kesiapan" Pak Masykur, sebelum menghadap Sang Maha Pencipta.
1. Cerita dari Pak Dien Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah:
Setelah Pak Dien sampai di depan pintu pesawat darurat, beliau sempat menengok ke belakang. Apa yang dilihatnya? Pak Masykur malah mempersilahkan orang lain keluar duluan. Sewaktu pesawat sudah berhenti dan tidak goyang lagi, semua orang yang di bagian depan, termasuk Pak Dien, secara tertib tapi cepat (tidak panik -- ref: Pak Suwarjono), keluar satu-satu lewat pintu darurat yang sudah miring mendekati tanah. Jadi tinggal loncat tidak tinggi. Pak Masykur malah masuk lagi dari koridor tengah pesawat, nyelinap di salah satu baris kursi dan mempersilahkan yang di belakangnya untuk keluar duluan. Bisa jadi, dia sudah dibelakang Dien, lalu mbalik dan masuk ke row di antara kursi-kursi untuk menolong Prof. Koesnadi (karena Prof Koesnadi agak lambat keluar dari kursinya) dan penumpang yang pingsan. Begitu yang lain sudah keluar dan sebagian yang di depan ada yang pingsan (kemungkinan karena nyedot asap, termasuk Alm sepupuku di nomer 5E, Toto Yulianto Dwi Laksono), Pak Masykur sibuk nolongin orang-orang ini. Namun kemudian pesawat meledak dan terbakar. Jenazah2 yang ditemukan, numpuk di sekitar nomer 5 dan 6 ini. Pak Masykur salah satu di anataranya.
2. Cerita Prof. Suwarjono, Dosen FEUGM.
Beliau duduk di deretan nomer 8. Di deretan depannya (No.7) ada Alm Pak Koes, Pak Dien; dan di nomer 6 ada Alm Pak Masykur, nomer 5 ada Alm saudaraku. Jadi, Pak Jon (Suwarjono) deket saja dengan para korban itu. Beliau bilang, keadaan setelah pesawat stabil berhenti: gelap, berasap, tapi masih bisa melihat ruangan sekeliling namun pintu darurat sudah membuka dengan sendirinya. Pak Jon lalu dengan tertib bersama dengan penumpang lain berderet menuju pintu darurat (Kata Pak Jon: dilakukan tidak dengan panik bahkan tertib). Pak Jon juga bilang, jarak waktu antara loncat dari pesawat sampai ada ledakan lebih dari 10 menit. Bukankah ini waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri keluar dari pesawat seandainya dia dalam keadaan tidak pingsan (sadar)? Pak Masykur sadar sepenuhnya dan seperti kata Pak Dien, malah berusaha menolong orang lain lebih dulu. Dia masuk dari koridor ke salah satu ruang di antara kursi2 dan menyilahkan yang lain untuk keluar lebih dulu. Setelah itu, Pak Suwarjono tidak melihat Pak Masykur lagi.
3. Cerita adik Kandung Alm Pak Masykur: Pak Arief Setyawan dari Brawijaya.
Setelah lama dicari di seluruh RS di Jogja dan tidak diketemukan (kami dosen-dosen FE UGM secara bersam-bersama dan/ bergiliran nge-cek dan menunggui di depan ruang forensik di beberapa RS di Jogja) dan tidak dapat teridentifikasi (termasuk ring di saluran menuju jantungnya sudah dicoba dites secara magnetik tapi sulit/gagal dikenali, AKHIRNYA di hari kedua Bu Masykur ingat bahwa Alm. Pak Masykur pernah menambal gigi samping kanan bagian dalam (orang FKG bilang ini gigi nomer 6). Lalu, melesatlah Pak Arief ke bagian Forensik RS. Sarjito. Namun Tim Forensik Sardjito memerlukan bukti otentik. Akhirnya, Pak Arief cabut ke RS Panti Rapih yang menambal gigi Pak Masykur di akhir tahun 1999 (November). Setelah mendapat bukti legal dari RS Panti Rapih, maka meluncurlah Pak Arief ini ke ruang Forensik RS Sarjito membawa bukti. Setelah dipastikan bahwa ada satu jenazah dengan rekam gigi bagian kanan belakang yang sama persis dengan ciri2 yang disebutkan oleh RS Panti Rapih ini (tambalan gigi dengan amalgam), maka terbukalah tabir tertutup selama hampir dua hari itu. Lalu, Tim Forensik yang terdiri dari para dokter di RS Sarjito dan juga dari pihak Kepolisian melakukan rapat (mestinya untuk tujuan kehati-hatian) , dan pada akhirnya dari rapat itu diputuskan bahwa jenazah dengan rekam gigi no 6 yang memakai tambalan amalgam itu adalah Alm Dr.Masykur Wiratmo, M.Sc. Anggota Tim Forensik Sarjito semuanya membubuhkan tanda-tangan dalam dokumen akhir proses identifikasi itu. Itulah satu-satunya bukti bahwa jenazah itu adalah dosen kita, Pak Maskur Wiratmo. Ketika itu pula keluarganya langsung diijinkan untuk mengurusnya (kepastian waktu identifikasi (hasil rapat dll) ini kurang lebih sekitar jam 4 sore hari Kamis).
4. Cerita dari Driver yang mengantar Alm Pak Masykur menuju Cengkareng dan dari beberapa hadirin dalam rapat PP Muhammadiyah di Jakarta.
Selasa itu (6/3/07) acara Pak Masykur adalah memberi pengarahan kepada jajaran rektor dari seluruh Universitas Muhammadiyah di Indonesia. Dalam pidatonya yang seharusnya berisi mengenai bagaimana manajemen Universitas Muhammadiyah di Indonesia yang baik (karena Alm. Pak Masykur adalah Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah) , ternyata pidatonya malah berisi layaknya pengajian agama. Sampai-sampai, para Rektor Univ Muhammadiyah dari seluruh
Dan, kita semua telah tahu, dosen kita, kolega senior saya di FE UGM, telah berpulang ke rahmatullah di bandara Adisucipto Jogja pada Rabu pagi itu. Beliau telah dijemput oleh Malaikat Izroil untuk beristirahat selama-lamanya. ..
Selamat jalan Pak Masykur. Mudah2an engkau khusnul khotimah Mudah2an Allah SWT tinggikan maqom-mu di akhirat
Amien amien amien, ya robbal 'alamien...
Forwaded message from Muhammad Edhie Purnawan
No comments:
Post a Comment