Jam 7.15 pagi ini, lebih cepat 5-10 menitan dari biasanya. Kepagian gak ya?
Naek angkot yang sama dengan kemarin ternyata, berjalan pelan menunggu ‘tumpukan’ penumpang.
Sampai di perempatan MM lampu baru saja menyala merah. Menerawang ke sekeliling, ada beberapa kios dan gerobak yang telah menjajakan dagangannya mulai dari gudeg, nasi rames, soto ayam, sampe gorengan, dan aneka macam minuman. See, ‘pangsa pasar’ mereka pastilah para sopir angkot, kernet, dan para ‘staf’nya yang memang sering berkumpul di sekitar perempatan itu. Yups, perempatan strategis. Pandanganku beralih pada sosok kecil yang tengah berlari, mendekat ke arah bus ku, dan dengan sigap meloncat naik. Ups, lincah juga. Kuperhatikan dia, ternyata dia adalah bocah yang kemaren dan kemarennya lagi ngamen juga di bus yang kutumpangi. Berarti dia sudah 3 kali ini kulihat mengamen. Melihat penampilannya masih seperti yang kemarin. Rambut plonthos, baju warna biru seperti baju olahraga salah satu sekolah dasar di
Kuambil selembar uang untuknya, dengan sopan dia menerimanya dan mengucapkan, “Makasih mbak”.
Terlintas di benakku, apakah dia sekolah? Tapi kenapa pagi-pagi sekali dia sudah mengamen? Pasti dia nggak sekolah. Kemana bapak ibunya? Apakah mereka orang yang nggak peduli dengan anaknya sehingga membiarkan anak sekecil itu sudah mencari nafkah seperti itu? Ataukah bapak ibunya benar-benar tidak mampu sehingga dia dituntut untuk ikut menanggung beban keluarganya?
Masih banyak pertanyaan yang terlintas. Lampu ternyata sudah hijau. Bocah kecil tadi sudah selesai mengedarkan kantongnya, dia pun bersiap-siap untuk turun dari bus.
Masih banyak orang yang kurang beruntung di sekeliling kita. Tapi kenapa kita selalu sulit untuk mensyukuri apa yang telah kita dapatkan selama ini. Bahkan kadang kita lupa atas semua yang telah diberikan oleh-Nya. Jadi inget pesen ibu, “Pandanglah ke bawah nak, masih banyak orang yang kurang beruntung di bawah kita, dan jika kau hanya memandang ke atas, maka kau akan terseok2 karenanya.”